Saatnya Jujur Membaca Data: Pendidikan Lampung Belum Bergerak Signifikan

 

Oleh: Abung Mamasa
Pemimpin Redaksi Harian Kandidat

Grafik terus menanjak. Anggaran pendidikan terus bertambah. Program berganti hampir setiap tahun. Namun di balik geliat pembangunan itu, ada satu fakta yang sulit dibantah: posisi pendidikan Provinsi Lampung nyaris tidak bergeser dari papan bawah nasional.
Selama belasan tahun, pemerintah menggelontorkan anggaran besar untuk sektor pendidikan. Sekolah dibangun, ruang kelas direhabilitasi, guru dilatih, bantuan pendidikan diperluas, hingga digitalisasi pembelajaran terus didorong. Dari sisi aktivitas pembangunan, semuanya tampak berjalan.
Namun pembangunan sejatinya tidak diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, melainkan dari hasil yang dicapai. Dan ketika data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dibuka, terlihat jelas bahwa kemajuan pendidikan di Lampung memang ada, tetapi lajunya terlalu lambat dibanding provinsi lain.
Akibatnya, Lampung tetap bertahan di kelompok bawah nasional.
Belasan Tahun Berlalu, Peringkat Tak Banyak Berubah
Data BPS menunjukkan Harapan Lama Sekolah (HLS) Lampung meningkat dari 11,92 tahun pada 2012 menjadi 12,79 tahun pada 2025. Dalam 13 tahun, kenaikannya hanya 0,87 tahun.
Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) naik dari 7,30 tahun menjadi 8,61 tahun, atau bertambah 1,31 tahun.
Sekilas, angka tersebut tampak menggembirakan. Namun jika dibandingkan dengan provinsi lain, persoalannya menjadi berbeda. Hampir semua daerah juga mengalami peningkatan. Yang menentukan bukan sekadar kenaikan, melainkan kecepatan peningkatan.
Di sinilah Lampung tertinggal.
Pada 2012, HLS Lampung berada di peringkat ke-29 nasional. Posisi itu bertahan hingga 2013, turun menjadi peringkat ke-30 pada 2014 hingga 2017, lalu kembali merosot ke posisi ke-31 sejak 2018 dan bertahan hingga 2025.
Artinya, selama delapan tahun berturut-turut Lampung tidak mampu beranjak dari peringkat ke-31 dari 38 provinsi.
Bahkan selama 13 tahun terakhir, Lampung tidak pernah masuk 25 besar nasional.
Kondisi serupa juga terlihat pada indikator Rata-rata Lama Sekolah. Sejak 2012 hingga 2025, peringkat Lampung hanya berputar di kisaran posisi ke-27 hingga ke-28 nasional tanpa lonjakan berarti.
Fakta tersebut menunjukkan satu hal yang tak bisa diabaikan: pendidikan Lampung memang berkembang, tetapi perkembangannya terlalu lambat untuk mengejar daerah lain.
Naik, Tetapi Tetap Tertinggal
Inilah ironi pendidikan Lampung.
Grafiknya terus naik, tetapi peringkatnya tidak ikut naik.
Ibarat sebuah perlombaan lari, Lampung memang terus bergerak maju. Namun para pesaingnya berlari lebih cepat sehingga jarak tidak pernah benar-benar terkejar.
Selama 13 tahun, Harapan Lama Sekolah hanya bertambah sekitar sepuluh bulan, sedangkan Rata-rata Lama Sekolah meningkat sekitar satu tahun tiga bulan.
Data tahun 2025 memperlihatkan kondisi tersebut secara nyata.
Harapan Lama Sekolah nasional mencapai 13,30 tahun, sedangkan Lampung baru 12,79 tahun.
Rata-rata Lama Sekolah nasional berada di angka 9,07 tahun, sementara Lampung masih 8,61 tahun.
Selisih yang tampak kecil itu cukup membuat Lampung tertahan di peringkat ke-31 nasional untuk HLS dan ke-28 untuk RLS.
Yang lebih memprihatinkan, Lampung bukan hanya tertinggal dari provinsi maju seperti DKI Jakarta atau DI Yogyakarta, tetapi juga dari sejumlah daerah yang sebelumnya berada pada posisi relatif setara.
Alarm Bernama Selisih 4,18 Tahun
Ada satu angka yang semestinya menjadi perhatian serius, yakni selisih antara Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah yang mencapai 4,18 tahun.
Artinya, seorang anak di Lampung diperkirakan memiliki kesempatan belajar hingga hampir lulus SMA. Namun pada kenyataannya, rata-rata penduduk dewasa hanya mengenyam pendidikan sekitar 8,61 tahun atau setara jenjang SMP.
Selisih lebih dari empat tahun itu bukan sekadar statistik.
Ia menjadi alarm bahwa kesempatan memperoleh pendidikan belum sepenuhnya berubah menjadi capaian nyata.
Masih banyak anak yang tidak berhasil menyelesaikan pendidikan menengah karena tekanan ekonomi, pernikahan usia dini, memilih bekerja lebih awal, hingga persoalan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, dan rendahnya motivasi belajar.
Jangan Lagi Berbangga pada Banyaknya Program
Selama ini keberhasilan pembangunan pendidikan sering diukur dari jumlah kegiatan.
Berapa sekolah dibangun.
Berapa ruang kelas direhabilitasi.
Berapa guru mengikuti pelatihan.
Berapa seminar dan workshop diselenggarakan.
Berapa besar anggaran yang terserap.
Padahal masyarakat tidak merasakan manfaat dari banyaknya aktivitas.
Yang dirasakan masyarakat adalah hasil akhirnya.
Apakah lebih banyak anak lulus SMA?
Apakah angka putus sekolah menurun?
Apakah semakin banyak lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi?
Apakah kualitas tenaga kerja meningkat?
Jika jawabannya belum menunjukkan perubahan signifikan, maka ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan perlu dievaluasi.
Sebab anggaran hanyalah alat.
Program hanyalah instrumen.
Tujuan akhirnya adalah meningkatnya kualitas manusia.
Persoalannya Sudah Bersifat Struktural
Jika stagnasi ini hanya berlangsung satu atau dua tahun, penyebabnya mungkin bersifat teknis.
Namun ketika kondisi serupa bertahan lebih dari satu dekade, persoalannya jelas lebih mendasar.
Selama 13 tahun telah berganti kepala daerah, kepala dinas, kurikulum, slogan, hingga berbagai program pendidikan.
Tetapi hasil akhirnya hampir sama.
Lampung tetap bertahan di kelompok bawah nasional.
Karena itu, evaluasi tidak cukup hanya menyasar pelaksanaan program.
Yang perlu dikaji adalah arah kebijakan secara menyeluruh.
Apakah seluruh kebijakan sudah berbasis data?
Apakah intervensi benar-benar difokuskan pada daerah dengan angka putus sekolah tertinggi?
Apakah ada target yang jelas untuk memperbaiki posisi Lampung di tingkat nasional?
Ataukah keberhasilan selama ini hanya diukur dari naiknya grafik tahunan tanpa melihat posisi relatif dibanding provinsi lain?
Pendidikan Menentukan Masa Depan Daerah
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah.
Ia menentukan kualitas tenaga kerja, produktivitas ekonomi, daya tarik investasi, tingkat pendapatan masyarakat, hingga keberhasilan mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Daerah dengan kualitas pendidikan rendah akan semakin sulit menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif.
Akibatnya, peluang investasi mengecil, kesempatan kerja terbatas, dan kemiskinan semakin sulit diputus.
Karena itu, pendidikan harus dipandang sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Saatnya Mengubah Cara Berpikir
Lampung sebenarnya tidak kekurangan modal.
Jumlah sekolah terus bertambah.
Perguruan tinggi berkembang.
Akses internet semakin luas.
Anggaran pendidikan tersedia setiap tahun.
Bonus demografi pun masih menjadi peluang besar.
Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar menambah program, tetapi memastikan seluruh sumber daya itu diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan.
Keberhasilan tidak boleh lagi diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari hasil nyata.
Berapa banyak anak bertahan hingga lulus SMA.
Berapa banyak yang melanjutkan kuliah.
Seberapa besar angka putus sekolah berhasil ditekan.
Seberapa tinggi rata-rata lama sekolah masyarakat meningkat.
Dan yang paling penting, seberapa jauh Lampung mampu memperbaiki posisinya dibanding provinsi lain.
Penutup
Data pendidikan Lampung periode 2012–2025 menyampaikan pesan yang sangat jelas. Kemajuan memang terjadi, tetapi belum cukup cepat untuk mengangkat Lampung keluar dari papan bawah nasional.
Selama 13 tahun, Harapan Lama Sekolah hanya meningkat 0,87 tahun, Rata-rata Lama Sekolah bertambah 1,31 tahun, sementara posisi Lampung tetap berkisar di peringkat 29–31 nasional untuk HLS dan 27–28 nasional untuk RLS.
Editorial ini bukan untuk menafikan kerja keras guru, kepala sekolah, maupun pemerintah. Justru sebaliknya, data harus dijadikan cermin yang jujur agar keberhasilan tidak lagi diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya program, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Selama rata-rata penduduk dewasa Lampung masih berpendidikan setingkat SMP, selama kesenjangan antara harapan dan kenyataan masih mencapai 4,18 tahun, dan selama Lampung belum mampu keluar dari papan bawah nasional, maka pekerjaan rumah pembangunan pendidikan belum selesai. Rapor Pendidikan 2025 seharusnya menjadi titik balik untuk meninggalkan kebanggaan semu atas grafik yang terus naik, dan mulai berani mengubah strategi agar pendidikan Lampung benar-benar mampu melompat lebih tinggi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *