Bandarlampung – Program Pupuk Hayati Cair (PHC) yang diinisiasi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Di tengah tingginya antusiasme petani, Pemprov Lampung kini bergerak cepat mengatasi kendala utama berupa keterbatasan pasokan air kelapa yang selama ini menjadi bahan penting dalam proses fermentasi pupuk hayati.
Keluhan petani terkait sulitnya memperoleh air kelapa dalam jumlah besar langsung direspons serius oleh Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH). Di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Elvira Umihanni, lahirlah terobosan baru dengan memanfaatkan air leri atau air cucian beras sebagai alternatif bahan baku.
Langkah tersebut bukan tanpa dasar. Elvira menjelaskan, sejumlah penelitian tentang pupuk organik dan hayati membuktikan bahwa air leri, bahkan limbah cair tahu, memiliki kandungan organik yang mampu mendukung proses produksi PHC.
“Berdasarkan evaluasi kebutuhan bahan baku tahun 2025, kami sudah melakukan reformulasi dengan mengurangi penggunaan air kelapa dan menggantinya sebagian menggunakan air leri,” ujar Elvira Umihanni, Minggu (24/5/2026).
Namun demikian, Elvira menegaskan bahwa air leri yang digunakan harus benar-benar bersih dan tidak tercampur zat kimia seperti sabun atau deterjen. Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, pihaknya juga mendorong kelompok tani menjalin kerja sama dengan Dapur MBG agar suplai tetap stabil.
Selain reformulasi, Pemprov Lampung juga membuka jalur kerja sama dengan sejumlah industri pengolahan kelapa, mulai dari pabrik kopra hingga produsen nata de coco, guna membantu kelompok tani yang masih membutuhkan pasokan air kelapa.
Program pengembangan pupuk hayati berbahan alami tersebut dipastikan terus berlanjut hingga 2026 dengan berbagai penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
Koperasi IJP Tawarkan Pupuk Hayati Juara Nasional
Sementara itu, inovasi pupuk organik juga datang dari Koperasi IJP Maju Sejahtera. Dalam pertemuan bersama Gubernur Lampung pada Jumat (22/5/2026), koperasi tersebut menawarkan Pupuk Hayati Cair berbasis maggot dan tanaman hasil produksi Kelompok Tani Desa Teluk Dalam, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur.
Produk pupuk hayati tersebut bukan produk biasa. Pada tahun 2022, pupuk ini pernah meraih juara nasional dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG). Sayangnya, usai meraih penghargaan, pengembangannya sempat berjalan mandiri karena minim perhatian dari pemerintah.
Melihat potensi tersebut, Rahmat Mirzani Djausal memberikan apresiasi tinggi dan menyatakan kesiapan Pemprov Lampung untuk mendukung pengembangan produksinya secara lebih luas.
“Pupuk ini bagus, sudah terbukti dan pernah juara nasional. Dengan bantuan Koperasi IJP Maju Sejahtera, kita siap memperluas produksinya agar dapat digunakan oleh petani Lampung,” kata Gubernur.
Dengan hadirnya dua inovasi sekaligus—reformulasi PHC menggunakan air leri dan pengembangan pupuk hayati berbasis maggot—Pemprov Lampung optimistis sektor pertanian daerah akan semakin maju melalui penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diproduksi masyarakat. (*)
